Showing posts with label school. Show all posts

Martyr: Genious In The Making


Okay... judulnya emang lebay.

Tapi emang perkembangan Martyr suka mengagetkan. Harusnya sih gak heran yah, karena menurut penelitian kan 3 tahun pertama usia anak bagaikan spons yang begitu cepat menyerap informasi dan segala macam pengetahuan yang ada di sekitarnya.

Cuma aku amazed aja, gara-gara sore tadi iseng-iseng ngobrol sama Martyr..
"Kak, Monkey artinya apa sih???"
"Monyet"
(Kaget! Okay nebak kali yah, tanya lagi) "Kalo horse?"
"Kuda"
(WOW!) "Chicken?"
"Ayam"
(Bunda Yuli yang ngedengerin jadi ikut penasaran) "Elephant?"
"Gajah"
"Giraffe?"
"Jerapah"

Kami emang gak pernah ngajarin secara intensif bahasa Inggris sama Martyr. Paling diselipin aja sambil nonton, browsing atau baca buku. Mungkin juga karena Martyr hobi banget nonton DVD Brainy Baby-Animals From Ape to Zebra. Dari 11 DVD Brainy Baby emang yang satu itu yang tiap hari ditonton. Martyr hobi berat sama binatang. Sering nonton Animal Planet juga. Oh ya, kalo browsing biasa di www.starfall.com. Ternyata yang iseng-iseng ngisi waktu aja diserap dengan luar biasa yah.

Kenapa gak diajarin bahasa Inggris aja sejak dini? Karena aku takut Martyr bingung kalo bilingual. Pengalaman anak temen yang dibiasakan bilingual, malah mengakibatkan speech delay karena bingung. Baru bisa ngomong umur 2,5 tahun deh. Gak semua anak punya kecerdasan bahasa kan? Pernah nonton di TV juga katanya usia tepat untuk mengajarkan anak bahasa lain selain bahasa ibu adalah 2,5 tahun. Jadi emang berencana dikenalin dikit-dikit pada usia itu. Alhamdulillah sebelum 2,5 tahun udah lumayan vocab-nya.

Selain itu, dirumah dan tetangga juga gak ada yg sehari-hari bahasa Inggris. Kasian aja kalo nanti Martyr terasing sendiri karena gak fasih bahasa Indonesia.

So, what's next? Yah lanjutin yang kemaren-kemaren aja. Gak usah pake target dan maksa. Yang penting happy Martyr dan yang ngasuh. Kalo ada hasilnya alhamdulillah. Mama akan selalu bangga sama Martyr.

Kotak Belajar Martyr


Ini minggu kedua Martyr belajar dan bermain terarah.

Temanya HUTAN. Makanya tulisannya pun pake crayon hijau. Go green ceritanya. Jujurnya sih, spidol mama satu-satunya ilang, jadi pake crayon deh. Lumayan deh, walo tulisannya agak berantakan. Itung-itung kan berkreasi, jadi Martyr tau selain pake spidol kita juga bisa manfaatin crayon buat nulis. Pinter kan mamanya ngeles. Hehehe.

Belajarnya huruf B, angka 2 dan hijaiyah Ba.

Keliatannya sih Martyr gak merhatiin, tapi ternyata dia hafal juga lho. Barusan aja aku tes pake cover buku "KETIKA CINTA BERTASBIH", yang mana huruf A. Martyr bisa lho menunjuk ketiga huruf A. Wow! Kirain selama ini cuek. Gak ditargetin apa-apa soalnya. Alhamdulillah.

Ayo Martyr, kita main terus...

Kurikulum untuk Homeschooling Toddler dan Preschooler


Dikutip dari hasil diskusi di milis sekolah rumah.

Apakah diperlukan sebuah kurikulum yang ajeg seperti pada usia SD untuk
mengajarkan toddler dan preschooler karena yang saya tahu pada usia itu anak lebih diutamakan bermain?
Apakah anak tidak akan merasa bosan belajar dan bermain sendiri hanya dengan ibunya padahal teman-temannya yang lain belajar bersama dalam satu kelas?


Jawaban 1 which is my answer ;)
imo, preschool atau toddler class pun sebenernya cuma bermain-main aja. Cuma emang bermainnya lebih terarah. Jadi mereka sepengetahuan ku gak ada kurikulum khusus/standar. Waktu belajar nya pun cuma 1 atau 2 jam seminggu sekali atau max seminggu 3 kali.

Kalo yang aku lakuin skrg dengan Martyr ku (2 yo) agar bermainnya lebih terarah aku coba adaptasi dari Letter Of The Week. Jadi biar pun keliatannya cuma bermain, tapi juga mengenal huruf, angka, dll.

Biar gak bosen maen dng orang rumah aja, tiap sore dan pagi Martyr pasti jalan-jalan dan maen di taman komplek sama anak-anak tetangga yg kebetulan banyak yg seumuran. Tiap weekend diajak ke playland, kolam renang, taman yg agak jauh dari rumah (taman menteng, tmii, dll), mall, atau tempat wisata buat field trip.

Ada rencana juga mau ajakin temen-temen Martyr kumpul tiap weekend dirumah. Sejam kayaknya cukup. Acaranya selaen maen, juga bisa makan bersama (bisa buat ngajarin table manner, berbagi, berdoa, cuci tangan) atau bkn prakarya bersama. Belum dilaksanain soalnya belum ketemu ibu yg laen.

Jawaban 2
Saya juga pakai kurikulum letteroftheweek.com untuk Keitha (3thn), tetap sersan..(serius tapi santai)..belajar ya belajar tapi dgn cara yang santai, ketawa ketiwi dan bercanda..:)

Selain itu, saya dapet banyak alternatif activity dari buku Slow and Steady Get Me Ready..awalnya ga tau juga isi buku ini tapi setelah beli ga nyesel tuh..terutama kalo kebingungan ngapain lagi hari ini..activitynya dari umur 0-5 tahun..full stimulasi perkembangan anak..:)

Jawaban 3
Saya juga meng-HS anak saya yang usianya 22 bulan. Saya tidak memakai kurikulum apa-apa karena pengertian saya (yang juga didukung beberapa literatur) kegiatan HS toddler cuma bermain. Kegiatan saya dan Alin sehari-hari 'cuma' seputar bernyanyi, main petak umpet, baca cerita, nonton CBeebies dan NatGeo Wild (di jam2 tertentu saja), main tuang2 air, main pasir, dan jalan2 sore cari teman-temannya di perumahan. Sesekali ada temannya yang berkunjung ke rumah. Dia juga saya kenalkan dengan kegiatan lukis-lukis, coret2 dengan berbagai media.

Memang kelihatannya belum terstruktur. Tapi sepertinya memang seperti itulah kegiatan HS anak2 toddler. Saya malah menghindari belajar formal untuk Alin untuk menghindari kejenuhan akan belajar yang terlalu dini. Cuma saya memanfaatkan pertanyaan2 dia kalau sedang ingin tahu tentang huruf hijaiyah, atau huruf alfabet. Alhamdulillah dia sudah bisa mengenali huruf K sebagai 'kucing', M sebagai 'mama', P sebagai 'Papa', dll.

Dia juga suka sekali mempraktekkan gerakan2 shalat. Saya memanfaatkan momen2 dia bertanya atau minta dibacakan cerita atau minta diajari sesuatu untuk memasukkan / mengenalkan hal baru. Makanya, saya tidak sampai hati menolak permintaan dia untuk dibacakan buku cerita meski saya sedang melakukan sesuatu.

Bosen? Hehehe...kadang2 yang bosen tidak cuma anaknya, tapi ibunya juga. Kalau sudah begitu, saya ketuk pintu tetangga dan minta main di rumahnya:-) Atau sekedar jalan2 di luar untuk ganti suasana.

Jawaban 4
Ringkasan dari buku "What Your Preschooler Needs to Know" (Core Knowledge):
Intinya, orang tua harus menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh cinta :P untuk anak usia pra-TK (2-5 tahun), sambil melakukan aktivitas-aktivitas berikut:
1) Membaca puisi.
2) Menyanyi dan menari.
3) Mendongeng atau membacakan cerita. Di situ disertakan beberapa cerita, seperti Three Little Pigs.
4) Mengajak anak mengapresiasi karya seni (misalnya lukisan), sambil mendiskusikan warna, media yang digunakan, dll.
5) Mengenalkan sejarah (disertai aktivitas dan cerita). Di situ contohnya Amerika dan tokoh-tokohnya sih (misalnya Martin Luther King, Jr.), tapi bisa dimodifikasi ‘kan.
6) Mengenalkan sains, misalnya mengamati hewan, tumbuh-tumbuhan, air, dan sebagainya sambil beraktivitas. Intinya mendekatkan anak dengan alam. Contohnya, bermain gelembung sabun sambil menerangkan kepada anak, “Udara ada di sekitar kita, sangat bermanfaat, tapi tidak bisa kita lihat.”

Beberapa contoh kegiatan saya dan Luna:
- Membaca buku
- Pergi ke festival2
- Ikut kumpul-kumpul komunitas Indonesia
- Ke perpustakaan
- Ke taman
- Mengajak memasak (mengupas bawang, menuang beras, mengaduk adonan)
- Berbelanja
- Main ke rumah teman
- Main game di komputer
- Menonton video di Youtube
- Menggambar
- Membuat origami
- Ikut kegiatan insidental seperti summer school atau day camp
- Belajar piano

Luna juga sering saya ajak ke acara formal/semiformal dan kadang-kadang ada yang memuji karena ia bersikap "manis" di mata orang dewasa (biasanya Luna menggambar atau merangkak-rangkak di bawah meja, tapi tak pernah bersuara keras).

Anak akan bosan kalau di rumah saja tanpa kegiatan.

Jawaban 5
Mungkin tidak usah ya..

Saya punya kurikulum PAUD th.2007, sudah explore www.letteroftheweek.com dan yang lainnya juga..hanya sebagai reference,jangan di target.

Jawaban untuk bosannya : tidak. 'Kan ada tetangga dan kerabat juga pak? waktu meng HS anak kita kan tidak membatasi dia harus ada didalam rumah. Anak saya (usia play group) juga HS dan tidak pakai kurikulum tertentu, rencananya sampai usia SD baru akan saya "kenakan" kurikulum "ajeg".

Bully mem Bully

Ini maksudnya bukan maen kebo-keboan lho... Bukan pengen bahas kumpul kebo juga. Bullying disini maksudnya diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain, bisa teman, saudara, pembantu misalnya. Perbuatan tidak menyenangkannya bisa berupa ejekan, diisengin atau dikerjain abis-abisan. Terinspirasi dari bahasan di milis sekolahrumah.

Bullying dimana-mana ada. Pada anak-anak, bullying biasa terjadi karena:
1. usia, kalau anak yang usianya lebih kecil, kemungkinan dibully oleh anak yang usia lebih besar.
2. badan, kalau badan anak kita lebih kecil, kemungkin dibully oleh anak yang badannya lebih besar.
3. status sosial, kalau status sosial kita lebih rendah, kemungkinan dibully oleh anak yang status sosialnya lebih tinggi.

Gak cuma di sekolah, atau lingkungan anak-anak aja. Bahkan lingkungan kantor yang isinya orang-orang dewasa berpendidikan aja masih ada tindakan bullying. Biasanya sih dari senior ke yunior.

Waktu TK dan SD aku juga jadi korban bullying. Mungkin karena tubuh ku mungil. Dan masuk kerja juga masih kena bullying sama senior-senior. Untungnya aku bisa ngelewatin itu semua dengan baik.

Aku gak bisa kasih tips macem-macem, cuma yang aku rasa biar bisa ngelewatin masa bullying itu adalah rasa Percaya Diri. Terserah mereka mau ngejek apa atau mau ngapain. Cuek is the best. Biar mungil asal keren.

Dan cari orang yang bisa dipercaya untuk sharing. Karena kita orang tua, kita harus bisa jadi pendengar buat anak-anak kita kalo mereka curhat jadi korban bullying. Kalo kita di bullying di kantor kita bertemen aja dan saling curhat dengan sesama yunior. Selain ngurangin rasa stres ini dari saling sharing ini bisa ningkatin PD juga kan.

Beri nilai lebih apa pun yang kita lakuin. Make yourself special. Misalnya jadi juara kelas, jadi anak yang baik (membantu ortu, mengasuh adik, dll), jadi karyawan teladan, jadi juara kasti, dll. Gali semua bakat yang ada di diri anak dan kita. Kalo lingkungan menilai kita baik, rasa PD bertambah, punya banyak teman dan temen yang dulu bullying malah bisa-bisa pengen jadi temen kita. Pengalaman terakhir sih, senior kantor yang bully aku sekarang malah rajin nelponin ajak makan siang bareng karena di tempatnya yang baru gak punya temen.

Let's Start Homeschool

Setelah selama ini belajar sambil jalan aja, alias gak ada program khusus sama sekali, sekarang aku coba buat jadwal khusus untuk belajar. Gak dijadwal fixed, jam berapa dan hari apa, tapi dibikin kurikulum minggu ini belajar apa aja dan ada dokumentasinya. Dokumentasi tertulis akan dijabarin disini. Foto selain upload disini juga bakalan ada di FB.

Kurikulumnya kurang lebih aku ikutin dari Letter Of The Week. Tema minggu ini yang diambil adalah SAPI.


Yang dimasukin ke kurikulum ada perkenalan vocab bahasa Inggris, perkenalan angka, huruf, bentuk, warna, huruf hijaiyah.

Di luar tema, kami main-main dng gunting, kertas, spidol, lem dan crayon. Hasil prakarya pertama kami (selain Tema Belajar) Alphabet Train.


Gambar keretanya diambil dari First School. Jadi selain belajar prakarya, hasilnya bisa dipajang dikamar dan bisa sekalian belajar alfabet juga.

Selain Alphabet Train, kami juga bikin buku angka. Keliatan di foto kan? Belum bisa Martyr pake, tapi bakal sangat bermanfaat nantinya. Buku angka bisa di download di Fun Lesson Plans.

Martyr belum terlalu minat buat prakarya sebenernya. Masih asik eksplor dengan Motorik Kasar. Lari sana sini, tendang bola, naek kuda-kudaan, mukulin drum. Mama gak maksa, cuma memperkenalkan, jadi terbiasa ngeliat semoga gak lama lagi mau ngikutin ngembangin motorik halusnya.

Mama juga abis ngeborong mainan kayu yang katanya bisa ngembangin motorik halus. Ada puzzle mobil, puzzle angka, puzzle binatang dan wire game. Belinya gak usah jauh-jauh ke Asemka, karena di belakang kantor mama ada yang jual. Murah pulak, gak jauh dari harga asemka.



Ayo Martyr... kita eksplorasi terus indahnya dunia...

Afterschool: What I'm Looking For?

Sekian lama mencari-cari informasi soal homeschooling, hari ini aku menemukan istilah afterschool. Atau bisa dibilang juga part-time homeschooling. Afterschool ini tidak sekedar mengerjakan PR bersama anak. Tapi lebih luas lagi melakukan kegiatan bersama keluarga yang terjadwal. Dan dari kegiatan ini ada tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam hal pembelajaran untuk anak.

Sepertinya, metode ini bisa diterapin buat Martyr nanti kalau sudah memasuki usia sekolah. Aku sendiri kurang yakin bisa ngejalanin full homeschooling untuk Martyr karena masih sibuk bekerja. Tapi untuk melepas tanggung jawab akademik ke sekolah saja kayaknya gak rela juga. Dan gak yakin apakah sekolah bisa memenuhi standar yang aku harapin.

Yang bisa dilakukan dengan metode afterschool ini diantaranya:

Jadwalkan kegiatan rutin bersama keluarga, dan libatkan anak dalam perencanaan.
Jadwal bisa menjadi mingguan (kegiatan dirumah) dan bulanan atau tiga-bulanan (kegiatan ke luar rumah).

Untuk kegiatan dirumah, jadwalkan kegiatan-kegiatan sederhana yang bisa dilakukan bersama anak. Misalnya seperti memasak kue atau menonton DVD bersama bisa menjadi kegiatan rutin yang menyenangkan. Jangan lupa, libatkan juga anak dalam perencanaan.

Contohnya, dalam kegiatan membuat kue bersama, orangtua dan anak bisa merencanakan bersama jenis kue yang akan dimasak, pencarian resep bisa dilakukan sampai search ke internet atau ke perpustakaan/toko buku. Pembelanjaan bahan dasar kue ke swalayan juga bisa menyenangkan.

Intinya, buatlah hal sederhana menjadi istimewa.

Kegiatan diluar rumah bisa dilakukan tanpa perlu keluar ekstra uang. Coba cari jadwal kesenian di Taman Ismail Marzuki mengenai pameran lukisan atau pertunjukan teater. Selain itu, bisa juga dilakukan Jalan-jalan ke museum, kantor pos, bank, stasiun kereta, bandara, dll. Kenapa harus menunggu dan bergantung pada kegiatan field trip dari pihak sekolah, kalau kita bisa melakukannya juga?

Rencanakan proyek bersama
Cobalah merencanakan proyek bersama yang bisa dilakukan dengan anak. Entah itu proyek jangka pendek atau jangka panjang. Misalnya saja, seperti berkebun. Mulai dari penanaman hingga panen, selain perlu perencanaan dan pencarian informasi yang cukup, mungkin orangtua dan anak bahkan perlu mendapatkan ”pelatihan” atau ”informasi” dari yang lebih berpengalaman, sehingga mungkin perlu adanya kunjungan, dlsb.

Dokumentasikan kegiatan
Yang membedakan homeschooling dari kegiatan lain, mungkin adalah tentang dokumentasi. Walaupun anak belajar ke sekolah, bukan berarti orangtua tidak bisa membuat portofolio juga seperti halnya homeschooler. Coba dokumentasi kegiatan bersama melalui video atau kamera, Semangati anak Anda untuk membuat tulisan/cerita mengenai kegiatannya, dan coba tuliskan ”pelajaran” apa saja yang didapat anak hari itu. Bisa juga didokumentasikan ke dalam blog.

Buat follow-up-nya!
Mirip-mirip seperti kegiatan tematik/unit studies, bila memungkinkan, cobalah membuat follow-upnya setelah kegiatan berakhir. Diskusikan bersama anak apa saja yang sudah dilakukan, lalu coba lihat apakah dari diskusi tersebut bisa memperluas dan membuat cabang bagi kegiatan-kegiatan baru. Misalnya setelah menonton DVD kartun penguin, mungkin anak menjadi ingin tahu mengenai penguin dan kehidupannya sehingga akhirnya perlu search ke internet atau menyewa DVD discovery channel mengenai penguin yang asli. Pengetahuan tentang penguin mungkin bisa menimbulkan proyek baru mengenai kehidupan di antartika, dlsb.

Terinspirasi dari Homeschooling Athallah

Anw, hari ini juga dapet harta karun link worksheet untuk belajar Bahasa Inggris mulai dari grade Kindergarten sampai grade 6. Thx to milis sekolahrumah
Silahkan klik : http://www.sfreading.com/

Simulasi Otak Untuk 1 Tahun ++

Dapet dari milis sekolahrumah. Bagus dan mudah dicoba.

1. Sering2lah mengajak bernyayi, lagu2 berbahasa Indonesia, topi saya bundar, balonku, lihatkebunku, dll

2. Tunjukkanlah berbagai macam obyek dan namanya, misalnya kalo jalan2 ke mall niy, tunjukan ke anak nama barang2 yang ada (jenis sayur2an, buah2an, dll).

3.Ajak anak berhitung bersama, apapun bs dihitung mulai dari jari, buku, mainan2nya. Batasi hitungan s.d angka 10.

4. Bacakan buku cerita untuk anak2 seusianya, mulai dengan satu bahasa dulu.

5. mainkan puzle 3 dimensi, yang ada bentuk2 bangun ruang itu lho, sambil kenalkan ke anak masing2 nama bangun ruang yg ada.

6. Untuk melatih motorik halus, siapkan crayon dan kertas, biarkan anak mencoret2 sesuka hati.

Martyr & Flash Card

Aku udah beli flash card dari sebelum punya anak. Malah udah baca buku "Mengajar Bayi Membaca" sejak belum hamil. Tapi flash cardnya gak yang mahal, cukup beli di Gramedia. Murah dan sama aja sih kayak yang mahal dan mengaku dapet lisensi dari Glenn Doman (aku pernah ikut presentasi produknya, tapi gak beli)

Aku mulai ajarin Martyr waktu Martyr usia 2 bulan. Kecepetan yah. Tapi waktu itu aku masih cuti dan bingung mau ngisi waktu ngapain lagi buat Martyr. Dan, amazing waktu usia Martyr 6 bulan, Martyr udah bisa lho sedikit-sedikit membaca flash card-nya.

Tapi yang namanya bayi membaca, gak seperti kita lho. Karena mereka kan belum bisa berkomunikasi dengan lancar. Jadi yang dimaksud dengan membaca, misalnya kita ambil dua kartu bertuliskan "BOLA" dan "BUKU" dan kita tanyakan yang mana "BUKU" anak akan ambil kartu bertuliskan "BUKU". Atau kita minta anak kita ambil kartu bertuliskan "BOLA" diantara setumpukan kartu dan anak dapat mengambil kartu yang tepat. Kira-kira seperti itu bayi membaca

Martyr punya 2 jenis flash card. Flash card yang cuma tulisan warna merah doang disatu sisi (spt metode Glenn Doman) dan flash card yang ada gambarnya.

Kalo flash card yang Glenn Doman aku pake bener-bener untuk belajar. Gak aku kasihin ke Martyr untuk dipegang-pegang. Jadi cuma dikeluarin untuk dibacain sekitar 1-2 menit, trus aku langsung masukin kelemari. Jadi flash card yang seri ini masih rapi dan bagus banget. Sengaja aku gak kasih karena menurut Glenn Doman, agar melatih otak kanan anak. Kalo anak sampe megang dan mengamati lebih dari 5 detik, nanti anak akan menganalisa bacaan yang dimaksud. Dan kalau udah menganalisa artinya udah masuk ke bidang otak kiri. Untuk jelasnya baca deh buku Glenn Doman, aku juga udah agak-agak lupa. hehehe.

Flash card yang ada gambarnya bole dimaenin sama Martyr. Sekarang udah pada keriting deh.

Ada juga dot card metode Glenn Doman untuk belajar matematika. Perlakuannya sama dengan flash card yang pertama. Yang ini aku kurang rutin melatih Martyr.

Sekarang Martyr udah 16 bulan, masih lanjut belajar flash card-nya. Tapi aku juga gak netapin target musti bisa dan tes Martyr secara berkala. Mengalir aja dan sambil isi waktu. Daripada Martyr muter-muterin rumah gak jelas yang bikin pusing.

PR Untuk Mama Martyr

Contoh-contoh stimulasi buat anak-anak 1 tahun plus (Martyr now 15m) dengan metode montessory. Terinspirasi dari Web Al Jabr Islamic School dan Web Pendidikan Rumah.

Semangat Mama!! Jangan Males!

Motorik kasar
1. melempar dan menangkap bola besar (in progress)
2. melompati kotak dengan kedua kaki (in progress)
3. bermain bola (berlari, menendang dan menangkap bola) (in progress)
4. memanjat (naik tempat tidur) (in progress)
5. berjalan pada titian keseimbangan (in progress)
6. bermain lompat tali
Motorik halus
7. bermain lilin
8. mewarnai gambar
9. mencoret-coret kertas (in progress)
10. menghias gambar sederhana
11. belajar menggunakan gunting
12. makan dengan sendok (in progress)
13. mengancingkan baju
14. membuka kancing baju (in progress)
15. menarik retsleting
16. menyisir rambut (in progress)
17. mengikat tali sepatu
Organ sensoris
18. membedakan rasa (in progress)
19. mengenali bau
20. mengenali warna benda(in progress)
21. mengenali benda dari ciri fisiknya
22. membedakan berbagai macam bentuk
Perkembangan kognitif
23. berhitung dengan lagu (in progress)
24. menempel sambil meneruskan pola yang sudah ada
25. mengikuti dan menyebutkan angka secara berurutan
26. mengelompokkan mainan
27. dot card (in progress)
28. mengenal nama warna (in progress)
29. mengenal bagian tubuh (in progress)
30. mengenal anggota keluarga (in progress)
31. membandingkan dua obyek atau lebih
32. menghitung
33. menata
34. mengurutkan
35. mengetahui nama hari dan bulan
36. mengetahui perbedaan waktu (pagi, siang, malam)
37. mengetahui perbedaan kecepatan (cepat dan lambat)
38. mengetahui beda tinggi dan rendah
39. mengetahui beda besar dan kecil
40. mengetahui beda panjang dan pendek
41. mengenal nama huruf alfabet dan membaca kata
42. memahami jumlah
Perkembangan bahasa
43. bernyanyi (english dan Indonesia) (in progress)
44. membaca puisi (english dan Indonesia) (in progress)
45. membaca dongeng (english dan Indonesia) (in progress)
46. flash card (in progress)
Seni
47. menari bersama (in progress)
Agama
48. membaca surat dan doa pendek beserta arti (in progress)
Perkembangan moral dan sosial
49. mengetahui sopan santun
50. mengetahui aturan keluarga/sekolah
51. bermain dengan teman
52. mampu bergantian dan antre
53. membereskan mainan sendiri (in progress)
Perkembangan emosional
54. menunjukkan rasa sayang
55. menunjukkan rasa empati
56. mengetahui simbol emosi (sedih, gembira, marah
57. mampu mengontrol emosi

Notes: disesuaikan kemampuan anak!

Recommended Books For Parents

I loooovvvveee to read!
Dan terbukti punya kebiasaan membaca ngebantu aku banget melewati kehamilan dan mengasuh Martyr.

Sering juga sih diledekin. Misalnya waktu baru melahirkan, ada satu temen kantor yang gak sempet jenguk nelpon dan pertanyaan pertamanya adalah: "Gimana? sesuai teori yang loe baca gak?"

Atau waktu Martyr baru lahir dan mama-ku kurang setuju asi eksklusif, komen pertamanya: "Udah deh... teori sama praktek itu beda! Kamu tuh cuma tau teori dan gak ngerti praktek". Untung aku insist dan kekeuh untuk asi eksklusif. Dan sekarang Mama-ku juga yang nikmatin hasilnya, karena Martyr jadi cucu yang pinter dan sehat.

Dan, diantara banyak buku yang aku baca, ada tiga buku yang -menurut ku- wajib dibaca dan dipraktekin.

1. Bayiku Anakku
Penulis: dr. Purnamawati S Pujiarto, Dr, SpAK, MMPaed (my fave DSA)
Penerbit: Intisari
Dibuku ini dijelasin lengkap mulai dari kehamilan, proses melahirkan, pengasuhan bayi hingga penyakit langganan anak-anak. Penyakit langganan anak jadi fokus utama buku ini. Apa penyebab anak sakit. Bagaimana tata laksana kalau anak sakit. Kapan harus ke dokter. Lewat buku ini cukup mengurangi kepanikan aku waktu Martyr sakit.


2. Q&A Smart Parents For Healthy Children

Diasuh: dr. Purnamawati S Pujiarto, Dr, SpAK, MMPaed
Penerbit: Intisari
Kupasan lebih dalam dari buku Bayiku Anakku ada di buku ini. Berisi tanya jawab dari orang tua (smart parents) yang tergabung di milis sehat yang kemudian di bunga rampai oleh dr. Wati.

3. Pedoman Pijat Bayi
Penulis: dr. Utami Rusli, Sp.A, MBA (DSA pelopor ASI di Indonesia)
Penerbit: Puspa Swara
Pijat bayi banyak banget manfaatnya.
Meningkatkan berat badan bayi
Meningkatkan pertumbuhan
Meningkatkan daya tahan tubuh
Meningkatkan Konsentrasi bayi dan membuat bayi tidur lebih lelap
Membina Kasih Sayang orang tua dengan anak
Meningkatkan produksi ASI

Tapi jangan sembarang pijat. Dan sebaiknya yang memijat adalah orang tua atau pengasuh bayi agar terjalin ikatan emosi yang kuat antara bayi dengan orang tua/pengasuh. Buku ini wajib dibaca, karena menjelaskan detil langkah-langkah pijat bayi plus gambar yang jelas. Masih belum puas? ada vcd-nya juga lho.

Martyr Daily Activities

Helloww...

Akhir-akhir ini aku lagi sibuk browsing sana-sini nyari-nyari aktivitas bermanfaat yang bisa diterapin Martyr setiap hari. Martyr gak pernah diem, dan sekarang lagi hobi muter-muter, gak cuma keliling rumah tapi suka minta diajak jalan-jalan keliling komplek kalo udah bosen di rumah. Mending kalo keliling kompleknya pagi-pagi atau sore waktu cuaca udah adem. Tapi siang bolong atau magrib-magrib suka maksa minta jalan-jalan. Duhh... nanti Martyr-ku item donggg... Makanya aku cari-cari aktivitas apa aja yang bisa bikin Martyr lebih lama bertahan dirumah. Hehehe.

Ditambah lagi, aku lagi bingung antara menyekolahkan Martyr sekarang atau nanti. Sekalian deh, cari pencerahan dimana-mana.

Alhamdulillah, banyak nemu link bagus. Aku browsing pake keyword: homeschooling kurikulum balita. Dari sekian banyak link bagus, favorit aku http://www.letteroftheweek.com/ . Suka banget, karena detil ngejelasin apa aja yang dibutuhin dan apa yang harus dilakuin.

Situs ini juga bikin aku makin yakin untuk gak masukin Martyr sekolah dulu. At least saat ini. Belum tau tahun-tahun yang akan datang. Aku rasa, asal konsisten dijalanin kurikulumnya, gak akan kalah juga dengan toddler class.

Nah, ini dia kurikulum yang mau aku terapin untuk Martyr. Dengan banyak adaptasi tentunya. Doakan sukses.