
Ibu macam apa yang baru post soal ultah anaknya setelah sebulan lewat??!
Oh well... this is my jurnal. Aku yang nentuin mau posting apa dan kapan. But, Martyr, kl baca ini nanti, maaf mama ga bisa rutin isi blog ini karena kesibukan mama. U know your mom well kan. Orangnya rempong, kerja di kantor rempong, bos rempong, etc etc hahaha
Back to topic, ultah ketiga ini ga dirayain juga karena udah bulan puasa. Jadi mama dan papa cuma pesen kue Thomas dari Harvest untuk tiup lilin sekeluarga dan goodybag buat dibagiin ke temen-temen Martyr.
Goodybag-nya standar aja diisi cemilan, yang spesial ada cookies alfabet bertuliskan nama MARTYR. Secara banyak tetangga yg sering salah manggil nama Martyr. Ada yang ngirain fatir, martin, nah semoga dengan cookies tsb bisa meluruskan yang salah. Walo sepertinya masih aja ada yang salah sampe sekarang.
Nah ini sebagian fotonya. Agak gelap karena lampu ruang tamu udah mulai redup minta diganti.
Dari kemaren ada kultwit yang menarik dari @AnnaSurtiNina, psikolog anak, yang ngebahas tentang apa sih finger print test (#FPT) itu. Aku rangkum yah, buat catetan sendiri. Sukur-sukur bisa kasih info buat yang laen.
- Memahami #FPT sama aja kayak kita ngertiin tes IQ, kl salah paham, gak berguna.
- Analisis #FPT cuma bisa baca bakat orang aja, dia terlahir dengan kemampuan apa. Tapi gak bisa baca bakat minat, krn minat kan bukan bawaan lahir.
- Beda #FPT sama tes IQ a.l karena tes IQ bisa 'baca' hasil stimulasi ortu. Tes minat bakat juga bisa cek seorang anak lebih bisa dijuruskan kemana
- Hasil #FPT gak bisa buat menjuruskan anak ke sekolah/kerjaan apapun karena gak ngecek minatnya. Padahal keberhasilan sekolah dan kerja juga sangat tergantung minat.
- Jadi salah kaprah orang 'baca' #FPT karena mereka pikir bisa tau anak kudu dijuruskan ke bidang studi apa.
- Salah kaprah #FPT yang lain adalah orang pikir itu bisa buat remaja/dewasa. Padahal semakin besar individu semakin besar juga efek interaksi lingkungan, gak mungkin #FPT prediksi kesuksesan berdasar bakat bawaan aja, harus tau minat, kemampuan, ketersediaan lapangan kerja, dll
- Kesalahan #FPT lain adalah ketika dikasih anak yang terlalu kecil, misal bayi. Bayi kan sidik jarinya masih alus banget, gak bisa diem pula jadi susah di'print'.
- Padahal #FPT sangat tergantung pada hasil print sidik jari. FPT tentukan sudut, kemiringan, jumlah, dll berdasarkan hasil print itu. Kalo dilakukan asal pasti hasil #FPT juga error. Nah, kesalahan ini yang saya lihat terjadi pada si susu yang bikin booming #FPT. Kebanyakan anak & ortu antri, bikin tester #FPT juga asal ngeprint sidik jari dan tentukan sudut. Saya gak yakin hasilnya bener. Apalagi ortu cuma dikonsul singkat banget. Bahaya banget deh.
- Kesimpulannya, kesalahan utama #FPT = ketergantungan pada metode nge print (&tester), juga pada kesalahpahaman baca hasilnya.
- Kalo kedua kesalahan utama #FPT itu minimal, kita masih bisa percaya hasilnya. Tapi tentunya beda 'penggunaan' dari tes IQ/hasil dukun ya hihihi
- Supaya gak terjadi kesalahan #FPT, maka vendor #FPT harusnya betul-betul latih admin supaya gak salah teknik ngeprint sidik jari.
- Selain itu, orang yang membaca #FPT juga kudu tau batasan-batasan #FPT, bukan anggap sebagai "1 size fit all"
- Admin tes #FPT harusnya mem'print' sidik jari dengan hati-hati, tapi kadang mereka tidak hati-hati karena banyaknya pengantri. Kenapa banyak pengantri? 1 alasan: murah.
- Setau saya, hasil #FPT sangat tergantung ketepatan menentukan 'titik'nya. Maka dari itu, sulit sekali dilakukan kepada anak yang masih kecil, apalagi bayi.
- Tapi ada vendor #FPT yang katanya bisa lakukan analisis sidik jari untuk bayi. Hmmm, hati-hati aja.
- Sekarang bahas dulu tentang kesalahan #FPT kedua, kesalahan interpretasi tentang hasilnya. Kesalahan ini bisa terjadi pada interpreter/kliennya.
- Interpreter #FPT itu maksudnya yang memberikan konseling tentang hasil. Klien #FPT maksudnya ortu/ anak peserta analisis sidik jari.
- Banyak interpreter yang tidak paham keterbatasan #FPT. Mereka kira #FPT itu bisa buat meramalkan masa depan anak. Padahal FPT cuma bisa baca "faktor bawaan"
- Maksudnya faktor bawaan dalam #FPT adalah bakat yang dibawa anak sejak dalam kandungan. Tiap anak ketika lahir ke dunia memang bawa beberapa bakat tertentu.
- Bakat tersebut yang diklaim bisa dicaritau oleh #FPT. #FPT juga bisa cari "learning style" dan belahan otak dominan, tapi lagi-lagi inget: Bawaan.
- Nah, masalahnya, kesuksesan itu tidak bisa ditentukan dari faktor bawaan. Ada stimulasi lingkungan, ada interaksi dengan orang lain, dll.
- Jadi SALAH BESAR kalau harapkan hasil #FPT bisa ramalkan kesuksesan anak.
- Tapi kalau hasil #FPT digunakan untuk lebih kenali anak, mana yang kurang dan lebih, untuk optimalkan seluruh kemampuannya, itu masih bisa diterima.
- Mari kita inget, bakat (bawaan) itu beda dari minat (berdasarkan pengalaman). Nah #FPT cuma bisa cek bakat. Tapi again, untuk sukses gak cukup bakat aja.
- So, untuk maksimalkan manfaat #FPT, ada beberapa hal yang bisa dilakukan ortu. Berikut ini tips-tips nya.
- Tips #FPT 1. Anak yang di tes sidik jarinya harus sudah jelas anaknya mau kooperatif. Usia >2tahun lebih baik dibanding bayi.
- Tips #FPT 2. semakin besar anak (SD keatas), inget bahwa hasil cuma bisa pahami bakatnya aja, tapi pasti ada faktor lain. Diskusikan dengan konselor.
- Tips #FPT 3. Jangan mau di tes kalo gak ada jaminan tentang ada waktu untuk konseling min 1 jam dengan psikolog, untuk revisi salah paham yang mungkin ada.
- Tips #FPT 4. Jangan jadikan hasil analisis sebagai satu-satunya sumber pengetahuan tentang cara stimulasi anak. Buka mata buka hati ortu ya.
- Tips #FPT 5. Buat yang udah remaja ke atas, udahlah, lupakan #FPT. Percuma tau 'bawaan' untuk tujuan prediksi yang akan datang. Anda lebih butuh tes minat.
- Inget #FPT cuma ukur 'faktor bawaan'. Kalo dibilang kita bakat musik, artinya kita lahir dengan bakat musik, tapi belum tentu bisa sukses di bidang musik.
- Oya, tips #FPT tambahan, jangan mau "tes" kalo berdesak-desakan. Gak akurat banget lho hasilnya.
- Hasil dari #FPT harusnya diapain? Dilihat kelebihan dan kekurangan anak kita. Tingkatkan stimulasi untuk yang kurang, melalui kelebihannya.
- Contoh: tau bahwa kecerdasan bahasa si 4 tahun oke sementara matematika kurang. Ajarkan matematika lewat dongeng.
- Contoh lain: tau bahwa anak lebih bisa belajar via telinga, ketika kita ajarin anak. Bisa gunakan lagu favoritnya tapi ganti teksnya dengan hapalannya.
- Kesimpulan sampat saat ini, #FPT bisa positif kalo 'tes'nya bener, interpretasinya bener. Tapi kenapa masih diperdebatkan?
- #FPT sebetulnya untuk bisa dibilang tes psikologi, harus lewat pengembangan yang sangat panjang. Mulai dari teori yang sah, bikin soal/item yang ok.
- #FPT setelah item jadi, harus diujicoba ke ribuan bahkan ratusan ribu orang, supaya tau apakah hasil tes akan valid/reliable
- #FPT Valid artinya tes itu bener-bener mengukur yang diukur. Misalnya mau ukur bakat, tes emang betul ngukur bakat, bukan ngukur minat/kecerdasan.
- #FPT Reliable artinya mau diulang jutaan kali, hasilnya kudu setara. Kl hasil sekarang beda sama hasil besok, itu gak reliable.
- Nah #FPT dianggap belum memenuhi syarat sebagai tes psikologi, padahal dia mengklaim bisa ukur beberapa hal psikologis seperti bakat, MI, gaya belajar, dll
- Setau saya, sampe saat ini #FPT masih terus dicek validitas & reliabilitasnya untuk bisa disebut tes psikologi.
- Tapi kalopun nantinya #FPT dianggep tes psikologi, inget, dia cuma ukur 'bawaan'. Jadi gak bisa prediksi masa depan dong.
- Jadi apa gunanya #FPT sebagai tes psikologi kalo gak bisa prediksi masa depan? cuma untuk lebih pahami anak, supaya gak galak-galak banget ketika stimulasi anak.
- Biar ortu ngerti gitu lho kalo anaknya gak bakat, maka perlu lebih banyak kesabaran dan trik untuk membuat dia bisa
- Nah, karena #FPT baru mencari validitas dan reliabilitasnya, buat apa bayar mahal untuk nge'tes'in anak? bisa cari yang murah aja tapi cari tahu lebih lanjut.
- Atau bayar mahal #FPT karena mau dapat konseling dari psikolognya, biar gak salah kaprah memahami hasilnya.
- Inget lagi, jangan mau bayar mahal #FPT kalo gak ada jaminan bisa konseling min 1 jam dengan psikolognya, daripada salah kaprah lho.
- Jadi kalo saya ditanya, "sebagai psikolog, anda percaya #FPT? maka jawaban saya adalah... "Saya belum bisa bicara tentang validitas & reliabilitasnya...Tapi kalo hasil tesnya bisa membantu banyak orang dengan BENAR, saya persilahkan orang untuk percaya. Kalo bantuannya SALAH, mari kita revisi bersama"
Pendapat lain soal FPT bisa klik disini.
Kalo aku yang ditanya, percaya gak sama tes FPT? Gak ah... I know my son... PD dong...
Kemaren dikejutkan temenku yang nangis-nangis di kantor dan langsung ijin pulang.
Gimana ga nangis kalo ditelpon sama si mbak di rumah dan dikabarin kalo anak semata wayangnya (3.5yo) dijedot-jedotin anak tetangga sampe benjol, panas dan trauma ga mau ngomong?
Can't u believe that? Aku aja dengernya langsung emosi.
Ini udah bukan nakalnya anak-anak lagi. Ini sih udah salah asuhan dan orang tua anak itu musti tau soal ini dan nyelesaiin masalahnya.
Emang sih ada masanya anak suka mukul. Tapi mukulnya anak-anak lebih karena gerak refleks karena ada hal yang ga disuka. Dan biasanya karena anak ga bisa ungkapin kekesalan dia. Martyr juga sempet masuk masa suka mukul. Tapi karena sering dibilangin, dan juga mulai bisa ungkapin pendapat dan perasaan, kebiasaan mukulnya udah jauh berkurang.
Tapi kalo anak balita sampe jedot-jedotin temen??? Ini udah masalah.
Semoga anak temen ku itu gak apa-apa deh. Dan aku pun udah cek sama Yuk Mar dirumah, kalo ada temen Martyr yang keliatan kasar atau nakal keterlaluan sebaiknya dihindarin.
Lebay? That's my middle name :P

Ini minggu kedua Martyr belajar dan bermain terarah.
Temanya HUTAN. Makanya tulisannya pun pake crayon hijau. Go green ceritanya. Jujurnya sih, spidol mama satu-satunya ilang, jadi pake crayon deh. Lumayan deh, walo tulisannya agak berantakan. Itung-itung kan berkreasi, jadi Martyr tau selain pake spidol kita juga bisa manfaatin crayon buat nulis. Pinter kan mamanya ngeles. Hehehe.
Belajarnya huruf B, angka 2 dan hijaiyah Ba.
Keliatannya sih Martyr gak merhatiin, tapi ternyata dia hafal juga lho. Barusan aja aku tes pake cover buku "KETIKA CINTA BERTASBIH", yang mana huruf A. Martyr bisa lho menunjuk ketiga huruf A. Wow! Kirain selama ini cuek. Gak ditargetin apa-apa soalnya. Alhamdulillah.
Ayo Martyr, kita main terus...

Dikutip dari hasil diskusi di milis sekolah rumah.
Apakah diperlukan sebuah kurikulum yang ajeg seperti pada usia SD untuk
mengajarkan toddler dan preschooler karena yang saya tahu pada usia itu anak lebih diutamakan bermain?
Apakah anak tidak akan merasa bosan belajar dan bermain sendiri hanya dengan ibunya padahal teman-temannya yang lain belajar bersama dalam satu kelas?
Jawaban 1 which is my answer ;)
imo, preschool atau toddler class pun sebenernya cuma bermain-main aja. Cuma emang bermainnya lebih terarah. Jadi mereka sepengetahuan ku gak ada kurikulum khusus/standar. Waktu belajar nya pun cuma 1 atau 2 jam seminggu sekali atau max seminggu 3 kali.
Kalo yang aku lakuin skrg dengan Martyr ku (2 yo) agar bermainnya lebih terarah aku coba adaptasi dari Letter Of The Week. Jadi biar pun keliatannya cuma bermain, tapi juga mengenal huruf, angka, dll.
Biar gak bosen maen dng orang rumah aja, tiap sore dan pagi Martyr pasti jalan-jalan dan maen di taman komplek sama anak-anak tetangga yg kebetulan banyak yg seumuran. Tiap weekend diajak ke playland, kolam renang, taman yg agak jauh dari rumah (taman menteng, tmii, dll), mall, atau tempat wisata buat field trip.
Ada rencana juga mau ajakin temen-temen Martyr kumpul tiap weekend dirumah. Sejam kayaknya cukup. Acaranya selaen maen, juga bisa makan bersama (bisa buat ngajarin table manner, berbagi, berdoa, cuci tangan) atau bkn prakarya bersama. Belum dilaksanain soalnya belum ketemu ibu yg laen.
Jawaban 2
Saya juga pakai kurikulum letteroftheweek.com untuk Keitha (3thn), tetap sersan..(serius tapi santai)..belajar ya belajar tapi dgn cara yang santai, ketawa ketiwi dan bercanda..:)
Selain itu, saya dapet banyak alternatif activity dari buku Slow and Steady Get Me Ready..awalnya ga tau juga isi buku ini tapi setelah beli ga nyesel tuh..terutama kalo kebingungan ngapain lagi hari ini..activitynya dari umur 0-5 tahun..full stimulasi perkembangan anak..:)
Jawaban 3
Saya juga meng-HS anak saya yang usianya 22 bulan. Saya tidak memakai kurikulum apa-apa karena pengertian saya (yang juga didukung beberapa literatur) kegiatan HS toddler cuma bermain. Kegiatan saya dan Alin sehari-hari 'cuma' seputar bernyanyi, main petak umpet, baca cerita, nonton CBeebies dan NatGeo Wild (di jam2 tertentu saja), main tuang2 air, main pasir, dan jalan2 sore cari teman-temannya di perumahan. Sesekali ada temannya yang berkunjung ke rumah. Dia juga saya kenalkan dengan kegiatan lukis-lukis, coret2 dengan berbagai media.
Memang kelihatannya belum terstruktur. Tapi sepertinya memang seperti itulah kegiatan HS anak2 toddler. Saya malah menghindari belajar formal untuk Alin untuk menghindari kejenuhan akan belajar yang terlalu dini. Cuma saya memanfaatkan pertanyaan2 dia kalau sedang ingin tahu tentang huruf hijaiyah, atau huruf alfabet. Alhamdulillah dia sudah bisa mengenali huruf K sebagai 'kucing', M sebagai 'mama', P sebagai 'Papa', dll.
Dia juga suka sekali mempraktekkan gerakan2 shalat. Saya memanfaatkan momen2 dia bertanya atau minta dibacakan cerita atau minta diajari sesuatu untuk memasukkan / mengenalkan hal baru. Makanya, saya tidak sampai hati menolak permintaan dia untuk dibacakan buku cerita meski saya sedang melakukan sesuatu.
Bosen? Hehehe...kadang2 yang bosen tidak cuma anaknya, tapi ibunya juga. Kalau sudah begitu, saya ketuk pintu tetangga dan minta main di rumahnya:-) Atau sekedar jalan2 di luar untuk ganti suasana.
Jawaban 4
Ringkasan dari buku "What Your Preschooler Needs to Know" (Core Knowledge):
Intinya, orang tua harus menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh cinta :P untuk anak usia pra-TK (2-5 tahun), sambil melakukan aktivitas-aktivitas berikut:
1) Membaca puisi.
2) Menyanyi dan menari.
3) Mendongeng atau membacakan cerita. Di situ disertakan beberapa cerita, seperti Three Little Pigs.
4) Mengajak anak mengapresiasi karya seni (misalnya lukisan), sambil mendiskusikan warna, media yang digunakan, dll.
5) Mengenalkan sejarah (disertai aktivitas dan cerita). Di situ contohnya Amerika dan tokoh-tokohnya sih (misalnya Martin Luther King, Jr.), tapi bisa dimodifikasi ‘kan.
6) Mengenalkan sains, misalnya mengamati hewan, tumbuh-tumbuhan, air, dan sebagainya sambil beraktivitas. Intinya mendekatkan anak dengan alam. Contohnya, bermain gelembung sabun sambil menerangkan kepada anak, “Udara ada di sekitar kita, sangat bermanfaat, tapi tidak bisa kita lihat.”
Beberapa contoh kegiatan saya dan Luna:
- Membaca buku
- Pergi ke festival2
- Ikut kumpul-kumpul komunitas Indonesia
- Ke perpustakaan
- Ke taman
- Mengajak memasak (mengupas bawang, menuang beras, mengaduk adonan)
- Berbelanja
- Main ke rumah teman
- Main game di komputer
- Menonton video di Youtube
- Menggambar
- Membuat origami
- Ikut kegiatan insidental seperti summer school atau day camp
- Belajar piano
Luna juga sering saya ajak ke acara formal/semiformal dan kadang-kadang ada yang memuji karena ia bersikap "manis" di mata orang dewasa (biasanya Luna menggambar atau merangkak-rangkak di bawah meja, tapi tak pernah bersuara keras).
Anak akan bosan kalau di rumah saja tanpa kegiatan.
Jawaban 5
Mungkin tidak usah ya..
Saya punya kurikulum PAUD th.2007, sudah explore www.letteroftheweek.com dan yang lainnya juga..hanya sebagai reference,jangan di target.
Jawaban untuk bosannya : tidak. 'Kan ada tetangga dan kerabat juga pak? waktu meng HS anak kita kan tidak membatasi dia harus ada didalam rumah. Anak saya (usia play group) juga HS dan tidak pakai kurikulum tertentu, rencananya sampai usia SD baru akan saya "kenakan" kurikulum "ajeg".
Buat yang masih ragu masih ajak anak umroh atau tidak, mungkin Q&A dibawah bisa ngejawab keraguan.
Dari hajiumroh.com
Pertanyaan :
saya ingin niat sekali untuk ibadah umroh kalo bisa dengan suami, anak, tapi usia anak saya baru 9 tahun lelaki. apakah khusyu kalo saya ibadah dengan anak lelaki yang usianya baru 9 tahun ?
(penanya :reni)
Jawaban :
Ass. wr. wb. Untuk ibadah umroh memang akan lebih khusyu jika dilaksanakan oleh yang sudah dewasa saja. Tetapi karena ibadah umroh waktunya flexibel dan bisa dilakukan beberapa kali saat kita sudah di Tanah suci nanti, jadi tidak masalah membawa anak. Sebagai ilustrasi..., pada umroh pertama kali bisa sekaligus dengan suami dan anak serta anggota rombongan. Untuk hari lainnya, bisa saja suami dan anak tinggal di penginapan sedangkan Ibu melakukan umroh ke dua dan seterusnya dengan teman lain pada rombongan yang berangkat bersama Ibu, dipandu oleh ketua rombongan. Juga saat lain bisa juga Ibu, anak dan beberapa teman di penginapan, sedangkan suami melaksanakan umroh dengan teman lain. Demikian penjelasan dari kami. Wass. wr. wb.
Buat yang punya tips-tips atau pernah umroh sambil ajak anak terutama batita, boleh yah di share ke aku....
Aku termasuk orang yang tertutup. Pada teman, keluarga dan orang tua. Susah banget untuk ngungkapin yang aku rasain ke orang lain, terutama orang tua. I don't know why. Dan aku gak mau hal tersebut juga dialami anak ku. Aku ingin anak ku bisa selalu cerita apa aja ke aku, for better or worst.
Minggu lalu, di acara Oprah Show, psikolog Gary Neuman ngebahas dan memberi solusi terhadap ketakutanku.
"Membuka hati" anak kita sendiri pun punya trik khusus. Agar anak mau bercerita dan membagi perasaannya, sebagai orang tua kita harus:
- Ajak bicara anak di saat senggang atau informal.
Gak perlu mengadakan rapat keluarga atau secara khusus memanggil anak untuk membahas sesuatu. Ajak anak bicara saat sarapan bersama, perjalanan ke sekolah, atau bermain.
- Don't be a conversation killer.
Jangan langsung menyalahkan anak atau menghakimi perasaannya.
- Put yourself in their shoes.
Pikirkan dan rasakan apa yang ada di hati anak-anak. Dengan ini kita akan lebih memahami apa yang mereka harapkan dan inginkan.
- Pancing pembicaraan.
Anak-anak sulit untuk memulai pembicaraan. Karena itu kita yang harus memulai pembicaraan. Dengan situasi yang santai dan pertanyaan ringan dari orang tua, anak akan dengan mudah mengeluarkan isi hatinya. Dan begitu si anak bercerita, jangan potong pembicaraannya. Biarkan ia puas mengeluarkan isi hatinya.
- Selalu ada untuk mereka.
selalu dengarkan mereka. Selalu hadir di saat mereka butuh. Ini akan membuat anak-anak nyaman dan percaya untuk membagi kesulitan mereka pada orang tuanya.