Showing posts with label stimulasi. Show all posts

Finger Print Test, Perlu/gak?

Dari kemaren ada kultwit yang menarik dari @AnnaSurtiNina, psikolog anak, yang ngebahas tentang apa sih finger print test (#FPT) itu. Aku rangkum yah, buat catetan sendiri. Sukur-sukur bisa kasih info buat yang laen.

- Memahami #FPT sama aja kayak kita ngertiin tes IQ, kl salah paham, gak berguna.
- Analisis #FPT cuma bisa baca bakat orang aja, dia terlahir dengan kemampuan apa. Tapi gak bisa baca bakat minat, krn minat kan bukan bawaan lahir.
- Beda #FPT sama tes IQ a.l karena tes IQ bisa 'baca' hasil stimulasi ortu. Tes minat bakat juga bisa cek seorang anak lebih bisa dijuruskan kemana
- Hasil #FPT gak bisa buat menjuruskan anak ke sekolah/kerjaan apapun karena gak ngecek minatnya. Padahal keberhasilan sekolah dan kerja juga sangat tergantung minat.
- Jadi salah kaprah orang 'baca' #FPT karena mereka pikir bisa tau anak kudu dijuruskan ke bidang studi apa.
- Salah kaprah #FPT yang lain adalah orang pikir itu bisa buat remaja/dewasa. Padahal semakin besar individu semakin besar juga efek interaksi lingkungan, gak mungkin #FPT prediksi kesuksesan berdasar bakat bawaan aja, harus tau minat, kemampuan, ketersediaan lapangan kerja, dll
- Kesalahan #FPT lain adalah ketika dikasih anak yang terlalu kecil, misal bayi. Bayi kan sidik jarinya masih alus banget, gak bisa diem pula jadi susah di'print'.
- Padahal #FPT sangat tergantung pada hasil print sidik jari. FPT tentukan sudut, kemiringan, jumlah, dll berdasarkan hasil print itu. Kalo dilakukan asal pasti hasil #FPT juga error. Nah, kesalahan ini yang saya lihat terjadi pada si susu yang bikin booming #FPT. Kebanyakan anak & ortu antri, bikin tester #FPT juga asal ngeprint sidik jari dan tentukan sudut. Saya gak yakin hasilnya bener. Apalagi ortu cuma dikonsul singkat banget. Bahaya banget deh.
- Kesimpulannya, kesalahan utama #FPT = ketergantungan pada metode nge print (&tester), juga pada kesalahpahaman baca hasilnya.
- Kalo kedua kesalahan utama #FPT itu minimal, kita masih bisa percaya hasilnya. Tapi tentunya beda 'penggunaan' dari tes IQ/hasil dukun ya hihihi
- Supaya gak terjadi kesalahan #FPT, maka vendor #FPT harusnya betul-betul latih admin supaya gak salah teknik ngeprint sidik jari.
- Selain itu, orang yang membaca #FPT juga kudu tau batasan-batasan #FPT, bukan anggap sebagai "1 size fit all"
- Admin tes #FPT harusnya mem'print' sidik jari dengan hati-hati, tapi kadang mereka tidak hati-hati karena banyaknya pengantri. Kenapa banyak pengantri? 1 alasan: murah.
- Setau saya, hasil #FPT sangat tergantung ketepatan menentukan 'titik'nya. Maka dari itu, sulit sekali dilakukan kepada anak yang masih kecil, apalagi bayi.
- Tapi ada vendor #FPT yang katanya bisa lakukan analisis sidik jari untuk bayi. Hmmm, hati-hati aja.
- Sekarang bahas dulu tentang kesalahan #FPT kedua, kesalahan interpretasi tentang hasilnya. Kesalahan ini bisa terjadi pada interpreter/kliennya.
- Interpreter #FPT itu maksudnya yang memberikan konseling tentang hasil. Klien #FPT maksudnya ortu/ anak peserta analisis sidik jari.
- Banyak interpreter yang tidak paham keterbatasan #FPT. Mereka kira #FPT itu bisa buat meramalkan masa depan anak. Padahal FPT cuma bisa baca "faktor bawaan"
- Maksudnya faktor bawaan dalam #FPT adalah bakat yang dibawa anak sejak dalam kandungan. Tiap anak ketika lahir ke dunia memang bawa beberapa bakat tertentu.
- Bakat tersebut yang diklaim bisa dicaritau oleh #FPT. #FPT juga bisa cari "learning style" dan belahan otak dominan, tapi lagi-lagi inget: Bawaan.
- Nah, masalahnya, kesuksesan itu tidak bisa ditentukan dari faktor bawaan. Ada stimulasi lingkungan, ada interaksi dengan orang lain, dll.
- Jadi SALAH BESAR kalau harapkan hasil #FPT bisa ramalkan kesuksesan anak.
- Tapi kalau hasil #FPT digunakan untuk lebih kenali anak, mana yang kurang dan lebih, untuk optimalkan seluruh kemampuannya, itu masih bisa diterima.
- Mari kita inget, bakat (bawaan) itu beda dari minat (berdasarkan pengalaman). Nah #FPT cuma bisa cek bakat. Tapi again, untuk sukses gak cukup bakat aja.
- So, untuk maksimalkan manfaat #FPT, ada beberapa hal yang bisa dilakukan ortu. Berikut ini tips-tips nya.
- Tips #FPT 1. Anak yang di tes sidik jarinya harus sudah jelas anaknya mau kooperatif. Usia >2tahun lebih baik dibanding bayi.
- Tips #FPT 2. semakin besar anak (SD keatas), inget bahwa hasil cuma bisa pahami bakatnya aja, tapi pasti ada faktor lain. Diskusikan dengan konselor.
- Tips #FPT 3. Jangan mau di tes kalo gak ada jaminan tentang ada waktu untuk konseling min 1 jam dengan psikolog, untuk revisi salah paham yang mungkin ada.
- Tips #FPT 4. Jangan jadikan hasil analisis sebagai satu-satunya sumber pengetahuan tentang cara stimulasi anak. Buka mata buka hati ortu ya.
- Tips #FPT 5. Buat yang udah remaja ke atas, udahlah, lupakan #FPT. Percuma tau 'bawaan' untuk tujuan prediksi yang akan datang. Anda lebih butuh tes minat.
- Inget #FPT cuma ukur 'faktor bawaan'. Kalo dibilang kita bakat musik, artinya kita lahir dengan bakat musik, tapi belum tentu bisa sukses di bidang musik.
- Oya, tips #FPT tambahan, jangan mau "tes" kalo berdesak-desakan. Gak akurat banget lho hasilnya.
- Hasil dari #FPT harusnya diapain? Dilihat kelebihan dan kekurangan anak kita. Tingkatkan stimulasi untuk yang kurang, melalui kelebihannya.
- Contoh: tau bahwa kecerdasan bahasa si 4 tahun oke sementara matematika kurang. Ajarkan matematika lewat dongeng.
- Contoh lain: tau bahwa anak lebih bisa belajar via telinga, ketika kita ajarin anak. Bisa gunakan lagu favoritnya tapi ganti teksnya dengan hapalannya.
- Kesimpulan sampat saat ini, #FPT bisa positif kalo 'tes'nya bener, interpretasinya bener. Tapi kenapa masih diperdebatkan?
- #FPT sebetulnya untuk bisa dibilang tes psikologi, harus lewat pengembangan yang sangat panjang. Mulai dari teori yang sah, bikin soal/item yang ok.
- #FPT setelah item jadi, harus diujicoba ke ribuan bahkan ratusan ribu orang, supaya tau apakah hasil tes akan valid/reliable
- #FPT Valid artinya tes itu bener-bener mengukur yang diukur. Misalnya mau ukur bakat, tes emang betul ngukur bakat, bukan ngukur minat/kecerdasan.
- #FPT Reliable artinya mau diulang jutaan kali, hasilnya kudu setara. Kl hasil sekarang beda sama hasil besok, itu gak reliable.
- Nah #FPT dianggap belum memenuhi syarat sebagai tes psikologi, padahal dia mengklaim bisa ukur beberapa hal psikologis seperti bakat, MI, gaya belajar, dll
- Setau saya, sampe saat ini #FPT masih terus dicek validitas & reliabilitasnya untuk bisa disebut tes psikologi.
- Tapi kalopun nantinya #FPT dianggep tes psikologi, inget, dia cuma ukur 'bawaan'. Jadi gak bisa prediksi masa depan dong.
- Jadi apa gunanya #FPT sebagai tes psikologi kalo gak bisa prediksi masa depan? cuma untuk lebih pahami anak, supaya gak galak-galak banget ketika stimulasi anak.
- Biar ortu ngerti gitu lho kalo anaknya gak bakat, maka perlu lebih banyak kesabaran dan trik untuk membuat dia bisa
- Nah, karena #FPT baru mencari validitas dan reliabilitasnya, buat apa bayar mahal untuk nge'tes'in anak? bisa cari yang murah aja tapi cari tahu lebih lanjut.
- Atau bayar mahal #FPT karena mau dapat konseling dari psikolognya, biar gak salah kaprah memahami hasilnya.
- Inget lagi, jangan mau bayar mahal #FPT kalo gak ada jaminan bisa konseling min 1 jam dengan psikolognya, daripada salah kaprah lho.
- Jadi kalo saya ditanya, "sebagai psikolog, anda percaya #FPT? maka jawaban saya adalah... "Saya belum bisa bicara tentang validitas & reliabilitasnya...Tapi kalo hasil tesnya bisa membantu banyak orang dengan BENAR, saya persilahkan orang untuk percaya. Kalo bantuannya SALAH, mari kita revisi bersama"

Pendapat lain soal FPT bisa klik disini.

Kalo aku yang ditanya, percaya gak sama tes FPT? Gak ah... I know my son... PD dong...

Martyr: Genious In The Making


Okay... judulnya emang lebay.

Tapi emang perkembangan Martyr suka mengagetkan. Harusnya sih gak heran yah, karena menurut penelitian kan 3 tahun pertama usia anak bagaikan spons yang begitu cepat menyerap informasi dan segala macam pengetahuan yang ada di sekitarnya.

Cuma aku amazed aja, gara-gara sore tadi iseng-iseng ngobrol sama Martyr..
"Kak, Monkey artinya apa sih???"
"Monyet"
(Kaget! Okay nebak kali yah, tanya lagi) "Kalo horse?"
"Kuda"
(WOW!) "Chicken?"
"Ayam"
(Bunda Yuli yang ngedengerin jadi ikut penasaran) "Elephant?"
"Gajah"
"Giraffe?"
"Jerapah"

Kami emang gak pernah ngajarin secara intensif bahasa Inggris sama Martyr. Paling diselipin aja sambil nonton, browsing atau baca buku. Mungkin juga karena Martyr hobi banget nonton DVD Brainy Baby-Animals From Ape to Zebra. Dari 11 DVD Brainy Baby emang yang satu itu yang tiap hari ditonton. Martyr hobi berat sama binatang. Sering nonton Animal Planet juga. Oh ya, kalo browsing biasa di www.starfall.com. Ternyata yang iseng-iseng ngisi waktu aja diserap dengan luar biasa yah.

Kenapa gak diajarin bahasa Inggris aja sejak dini? Karena aku takut Martyr bingung kalo bilingual. Pengalaman anak temen yang dibiasakan bilingual, malah mengakibatkan speech delay karena bingung. Baru bisa ngomong umur 2,5 tahun deh. Gak semua anak punya kecerdasan bahasa kan? Pernah nonton di TV juga katanya usia tepat untuk mengajarkan anak bahasa lain selain bahasa ibu adalah 2,5 tahun. Jadi emang berencana dikenalin dikit-dikit pada usia itu. Alhamdulillah sebelum 2,5 tahun udah lumayan vocab-nya.

Selain itu, dirumah dan tetangga juga gak ada yg sehari-hari bahasa Inggris. Kasian aja kalo nanti Martyr terasing sendiri karena gak fasih bahasa Indonesia.

So, what's next? Yah lanjutin yang kemaren-kemaren aja. Gak usah pake target dan maksa. Yang penting happy Martyr dan yang ngasuh. Kalo ada hasilnya alhamdulillah. Mama akan selalu bangga sama Martyr.

Kotak Belajar Martyr


Ini minggu kedua Martyr belajar dan bermain terarah.

Temanya HUTAN. Makanya tulisannya pun pake crayon hijau. Go green ceritanya. Jujurnya sih, spidol mama satu-satunya ilang, jadi pake crayon deh. Lumayan deh, walo tulisannya agak berantakan. Itung-itung kan berkreasi, jadi Martyr tau selain pake spidol kita juga bisa manfaatin crayon buat nulis. Pinter kan mamanya ngeles. Hehehe.

Belajarnya huruf B, angka 2 dan hijaiyah Ba.

Keliatannya sih Martyr gak merhatiin, tapi ternyata dia hafal juga lho. Barusan aja aku tes pake cover buku "KETIKA CINTA BERTASBIH", yang mana huruf A. Martyr bisa lho menunjuk ketiga huruf A. Wow! Kirain selama ini cuek. Gak ditargetin apa-apa soalnya. Alhamdulillah.

Ayo Martyr, kita main terus...

Kurikulum untuk Homeschooling Toddler dan Preschooler


Dikutip dari hasil diskusi di milis sekolah rumah.

Apakah diperlukan sebuah kurikulum yang ajeg seperti pada usia SD untuk
mengajarkan toddler dan preschooler karena yang saya tahu pada usia itu anak lebih diutamakan bermain?
Apakah anak tidak akan merasa bosan belajar dan bermain sendiri hanya dengan ibunya padahal teman-temannya yang lain belajar bersama dalam satu kelas?


Jawaban 1 which is my answer ;)
imo, preschool atau toddler class pun sebenernya cuma bermain-main aja. Cuma emang bermainnya lebih terarah. Jadi mereka sepengetahuan ku gak ada kurikulum khusus/standar. Waktu belajar nya pun cuma 1 atau 2 jam seminggu sekali atau max seminggu 3 kali.

Kalo yang aku lakuin skrg dengan Martyr ku (2 yo) agar bermainnya lebih terarah aku coba adaptasi dari Letter Of The Week. Jadi biar pun keliatannya cuma bermain, tapi juga mengenal huruf, angka, dll.

Biar gak bosen maen dng orang rumah aja, tiap sore dan pagi Martyr pasti jalan-jalan dan maen di taman komplek sama anak-anak tetangga yg kebetulan banyak yg seumuran. Tiap weekend diajak ke playland, kolam renang, taman yg agak jauh dari rumah (taman menteng, tmii, dll), mall, atau tempat wisata buat field trip.

Ada rencana juga mau ajakin temen-temen Martyr kumpul tiap weekend dirumah. Sejam kayaknya cukup. Acaranya selaen maen, juga bisa makan bersama (bisa buat ngajarin table manner, berbagi, berdoa, cuci tangan) atau bkn prakarya bersama. Belum dilaksanain soalnya belum ketemu ibu yg laen.

Jawaban 2
Saya juga pakai kurikulum letteroftheweek.com untuk Keitha (3thn), tetap sersan..(serius tapi santai)..belajar ya belajar tapi dgn cara yang santai, ketawa ketiwi dan bercanda..:)

Selain itu, saya dapet banyak alternatif activity dari buku Slow and Steady Get Me Ready..awalnya ga tau juga isi buku ini tapi setelah beli ga nyesel tuh..terutama kalo kebingungan ngapain lagi hari ini..activitynya dari umur 0-5 tahun..full stimulasi perkembangan anak..:)

Jawaban 3
Saya juga meng-HS anak saya yang usianya 22 bulan. Saya tidak memakai kurikulum apa-apa karena pengertian saya (yang juga didukung beberapa literatur) kegiatan HS toddler cuma bermain. Kegiatan saya dan Alin sehari-hari 'cuma' seputar bernyanyi, main petak umpet, baca cerita, nonton CBeebies dan NatGeo Wild (di jam2 tertentu saja), main tuang2 air, main pasir, dan jalan2 sore cari teman-temannya di perumahan. Sesekali ada temannya yang berkunjung ke rumah. Dia juga saya kenalkan dengan kegiatan lukis-lukis, coret2 dengan berbagai media.

Memang kelihatannya belum terstruktur. Tapi sepertinya memang seperti itulah kegiatan HS anak2 toddler. Saya malah menghindari belajar formal untuk Alin untuk menghindari kejenuhan akan belajar yang terlalu dini. Cuma saya memanfaatkan pertanyaan2 dia kalau sedang ingin tahu tentang huruf hijaiyah, atau huruf alfabet. Alhamdulillah dia sudah bisa mengenali huruf K sebagai 'kucing', M sebagai 'mama', P sebagai 'Papa', dll.

Dia juga suka sekali mempraktekkan gerakan2 shalat. Saya memanfaatkan momen2 dia bertanya atau minta dibacakan cerita atau minta diajari sesuatu untuk memasukkan / mengenalkan hal baru. Makanya, saya tidak sampai hati menolak permintaan dia untuk dibacakan buku cerita meski saya sedang melakukan sesuatu.

Bosen? Hehehe...kadang2 yang bosen tidak cuma anaknya, tapi ibunya juga. Kalau sudah begitu, saya ketuk pintu tetangga dan minta main di rumahnya:-) Atau sekedar jalan2 di luar untuk ganti suasana.

Jawaban 4
Ringkasan dari buku "What Your Preschooler Needs to Know" (Core Knowledge):
Intinya, orang tua harus menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh cinta :P untuk anak usia pra-TK (2-5 tahun), sambil melakukan aktivitas-aktivitas berikut:
1) Membaca puisi.
2) Menyanyi dan menari.
3) Mendongeng atau membacakan cerita. Di situ disertakan beberapa cerita, seperti Three Little Pigs.
4) Mengajak anak mengapresiasi karya seni (misalnya lukisan), sambil mendiskusikan warna, media yang digunakan, dll.
5) Mengenalkan sejarah (disertai aktivitas dan cerita). Di situ contohnya Amerika dan tokoh-tokohnya sih (misalnya Martin Luther King, Jr.), tapi bisa dimodifikasi ‘kan.
6) Mengenalkan sains, misalnya mengamati hewan, tumbuh-tumbuhan, air, dan sebagainya sambil beraktivitas. Intinya mendekatkan anak dengan alam. Contohnya, bermain gelembung sabun sambil menerangkan kepada anak, “Udara ada di sekitar kita, sangat bermanfaat, tapi tidak bisa kita lihat.”

Beberapa contoh kegiatan saya dan Luna:
- Membaca buku
- Pergi ke festival2
- Ikut kumpul-kumpul komunitas Indonesia
- Ke perpustakaan
- Ke taman
- Mengajak memasak (mengupas bawang, menuang beras, mengaduk adonan)
- Berbelanja
- Main ke rumah teman
- Main game di komputer
- Menonton video di Youtube
- Menggambar
- Membuat origami
- Ikut kegiatan insidental seperti summer school atau day camp
- Belajar piano

Luna juga sering saya ajak ke acara formal/semiformal dan kadang-kadang ada yang memuji karena ia bersikap "manis" di mata orang dewasa (biasanya Luna menggambar atau merangkak-rangkak di bawah meja, tapi tak pernah bersuara keras).

Anak akan bosan kalau di rumah saja tanpa kegiatan.

Jawaban 5
Mungkin tidak usah ya..

Saya punya kurikulum PAUD th.2007, sudah explore www.letteroftheweek.com dan yang lainnya juga..hanya sebagai reference,jangan di target.

Jawaban untuk bosannya : tidak. 'Kan ada tetangga dan kerabat juga pak? waktu meng HS anak kita kan tidak membatasi dia harus ada didalam rumah. Anak saya (usia play group) juga HS dan tidak pakai kurikulum tertentu, rencananya sampai usia SD baru akan saya "kenakan" kurikulum "ajeg".

Let's Start Homeschool

Setelah selama ini belajar sambil jalan aja, alias gak ada program khusus sama sekali, sekarang aku coba buat jadwal khusus untuk belajar. Gak dijadwal fixed, jam berapa dan hari apa, tapi dibikin kurikulum minggu ini belajar apa aja dan ada dokumentasinya. Dokumentasi tertulis akan dijabarin disini. Foto selain upload disini juga bakalan ada di FB.

Kurikulumnya kurang lebih aku ikutin dari Letter Of The Week. Tema minggu ini yang diambil adalah SAPI.


Yang dimasukin ke kurikulum ada perkenalan vocab bahasa Inggris, perkenalan angka, huruf, bentuk, warna, huruf hijaiyah.

Di luar tema, kami main-main dng gunting, kertas, spidol, lem dan crayon. Hasil prakarya pertama kami (selain Tema Belajar) Alphabet Train.


Gambar keretanya diambil dari First School. Jadi selain belajar prakarya, hasilnya bisa dipajang dikamar dan bisa sekalian belajar alfabet juga.

Selain Alphabet Train, kami juga bikin buku angka. Keliatan di foto kan? Belum bisa Martyr pake, tapi bakal sangat bermanfaat nantinya. Buku angka bisa di download di Fun Lesson Plans.

Martyr belum terlalu minat buat prakarya sebenernya. Masih asik eksplor dengan Motorik Kasar. Lari sana sini, tendang bola, naek kuda-kudaan, mukulin drum. Mama gak maksa, cuma memperkenalkan, jadi terbiasa ngeliat semoga gak lama lagi mau ngikutin ngembangin motorik halusnya.

Mama juga abis ngeborong mainan kayu yang katanya bisa ngembangin motorik halus. Ada puzzle mobil, puzzle angka, puzzle binatang dan wire game. Belinya gak usah jauh-jauh ke Asemka, karena di belakang kantor mama ada yang jual. Murah pulak, gak jauh dari harga asemka.



Ayo Martyr... kita eksplorasi terus indahnya dunia...

Mengaktifkan Otak Kanan

Ditranslasikan dari: http://www.ehow.com/how_5445751_develop-right-brain.html

1. Berlatih meditasi
Menenangkan alam pikiran dengan meditasi akan membuat otak kanan lebih sensitif dalam memproses dan menunjukkan informasi.

2. Alihkan dominasi otak kiri dengan menggambar abstrak.
Menggambar abstrak adalah membuat gambar bebas tanpa menganalisa apa yang hendak digambar. Latihan menggambar abstrak secara rutin adalah cara untuk mengaktifkan dan membangunkan otak kanan. Biasanya solusi dari segala permasalahan akan datang ketika sedang menggambar abstrak.

3. Menulis cerita pendek atau buku harian (atau blog).
Ketika mendeskripsikan pengalaman dengan kata tertulis baik itu nyata atau khayalan, otak kanan yang menggambarkan apa yang terjadi. Semakin banyak cerita yang dituliskan, akan semakin berkembang otak kanan.

4. Latihan penggambaran kreatif.
Penggambaran kreatif adalah ketika kita memilih sebuah gambaran yang kita inginkan dalam pikiran kita. Ada juga yang menggunakan penggambaran kreatif ini untuk memperbaiki keadaan yang dialami, misalnya membayangkan diri mereka bertubuh kurus bila mereka ingin menurunkan berat badan. Apapun itu, kita dapat memilih gambaran apa yang ingin kita visualisasikan.

5. Latihan menulis bebas.
Menulis bebas dengan mengambil secarik kertas, sebatang pensil dan mulailah tulis apapun yang mau ditulis. Jangan pedulikan pemenggalan kata, penulisan huruf besar, tulis saja. Otak kanan akan semakin berkembang ketika melakukan menulis bebas.

Tips:
Seringlah mendengarkan musik ketika bekerja. Otak kanan akan menyala dan menampilkan gambaran yang terkait dengan musik.

Peringatan:
Jika terbiasa menggunakan otak kiri, otak kiri akan mengirimkan sinyal protes ketika mencoba untuk mengaktifkan otak kanan. Penting untuk membatasi penggunaan otak kiri selama beraktivitas dengan otak kanan.

Look... What Mama Bought!!!

Hey... Hey... look... what Mama bought!!!

TOY STORY MAGAZINE 2nd Edition!!!

Yes, it's a magazine. Not a movie. And to make it more cool... They give us two pins as bonuses. Martyr makin keren kan???





For you to remember, Toys Story series are our favorite cartoon movies. That's why we have them for Martyr first birthday cake last year.

Simulasi Otak Untuk 1 Tahun ++

Dapet dari milis sekolahrumah. Bagus dan mudah dicoba.

1. Sering2lah mengajak bernyayi, lagu2 berbahasa Indonesia, topi saya bundar, balonku, lihatkebunku, dll

2. Tunjukkanlah berbagai macam obyek dan namanya, misalnya kalo jalan2 ke mall niy, tunjukan ke anak nama barang2 yang ada (jenis sayur2an, buah2an, dll).

3.Ajak anak berhitung bersama, apapun bs dihitung mulai dari jari, buku, mainan2nya. Batasi hitungan s.d angka 10.

4. Bacakan buku cerita untuk anak2 seusianya, mulai dengan satu bahasa dulu.

5. mainkan puzle 3 dimensi, yang ada bentuk2 bangun ruang itu lho, sambil kenalkan ke anak masing2 nama bangun ruang yg ada.

6. Untuk melatih motorik halus, siapkan crayon dan kertas, biarkan anak mencoret2 sesuka hati.