Kurikulum untuk Homeschooling Toddler dan Preschooler

9:17 PM Dewi 4 Comments


Dikutip dari hasil diskusi di milis sekolah rumah.

Apakah diperlukan sebuah kurikulum yang ajeg seperti pada usia SD untuk
mengajarkan toddler dan preschooler karena yang saya tahu pada usia itu anak lebih diutamakan bermain?
Apakah anak tidak akan merasa bosan belajar dan bermain sendiri hanya dengan ibunya padahal teman-temannya yang lain belajar bersama dalam satu kelas?


Jawaban 1 which is my answer ;)
imo, preschool atau toddler class pun sebenernya cuma bermain-main aja. Cuma emang bermainnya lebih terarah. Jadi mereka sepengetahuan ku gak ada kurikulum khusus/standar. Waktu belajar nya pun cuma 1 atau 2 jam seminggu sekali atau max seminggu 3 kali.

Kalo yang aku lakuin skrg dengan Martyr ku (2 yo) agar bermainnya lebih terarah aku coba adaptasi dari Letter Of The Week. Jadi biar pun keliatannya cuma bermain, tapi juga mengenal huruf, angka, dll.

Biar gak bosen maen dng orang rumah aja, tiap sore dan pagi Martyr pasti jalan-jalan dan maen di taman komplek sama anak-anak tetangga yg kebetulan banyak yg seumuran. Tiap weekend diajak ke playland, kolam renang, taman yg agak jauh dari rumah (taman menteng, tmii, dll), mall, atau tempat wisata buat field trip.

Ada rencana juga mau ajakin temen-temen Martyr kumpul tiap weekend dirumah. Sejam kayaknya cukup. Acaranya selaen maen, juga bisa makan bersama (bisa buat ngajarin table manner, berbagi, berdoa, cuci tangan) atau bkn prakarya bersama. Belum dilaksanain soalnya belum ketemu ibu yg laen.

Jawaban 2
Saya juga pakai kurikulum letteroftheweek.com untuk Keitha (3thn), tetap sersan..(serius tapi santai)..belajar ya belajar tapi dgn cara yang santai, ketawa ketiwi dan bercanda..:)

Selain itu, saya dapet banyak alternatif activity dari buku Slow and Steady Get Me Ready..awalnya ga tau juga isi buku ini tapi setelah beli ga nyesel tuh..terutama kalo kebingungan ngapain lagi hari ini..activitynya dari umur 0-5 tahun..full stimulasi perkembangan anak..:)

Jawaban 3
Saya juga meng-HS anak saya yang usianya 22 bulan. Saya tidak memakai kurikulum apa-apa karena pengertian saya (yang juga didukung beberapa literatur) kegiatan HS toddler cuma bermain. Kegiatan saya dan Alin sehari-hari 'cuma' seputar bernyanyi, main petak umpet, baca cerita, nonton CBeebies dan NatGeo Wild (di jam2 tertentu saja), main tuang2 air, main pasir, dan jalan2 sore cari teman-temannya di perumahan. Sesekali ada temannya yang berkunjung ke rumah. Dia juga saya kenalkan dengan kegiatan lukis-lukis, coret2 dengan berbagai media.

Memang kelihatannya belum terstruktur. Tapi sepertinya memang seperti itulah kegiatan HS anak2 toddler. Saya malah menghindari belajar formal untuk Alin untuk menghindari kejenuhan akan belajar yang terlalu dini. Cuma saya memanfaatkan pertanyaan2 dia kalau sedang ingin tahu tentang huruf hijaiyah, atau huruf alfabet. Alhamdulillah dia sudah bisa mengenali huruf K sebagai 'kucing', M sebagai 'mama', P sebagai 'Papa', dll.

Dia juga suka sekali mempraktekkan gerakan2 shalat. Saya memanfaatkan momen2 dia bertanya atau minta dibacakan cerita atau minta diajari sesuatu untuk memasukkan / mengenalkan hal baru. Makanya, saya tidak sampai hati menolak permintaan dia untuk dibacakan buku cerita meski saya sedang melakukan sesuatu.

Bosen? Hehehe...kadang2 yang bosen tidak cuma anaknya, tapi ibunya juga. Kalau sudah begitu, saya ketuk pintu tetangga dan minta main di rumahnya:-) Atau sekedar jalan2 di luar untuk ganti suasana.

Jawaban 4
Ringkasan dari buku "What Your Preschooler Needs to Know" (Core Knowledge):
Intinya, orang tua harus menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh cinta :P untuk anak usia pra-TK (2-5 tahun), sambil melakukan aktivitas-aktivitas berikut:
1) Membaca puisi.
2) Menyanyi dan menari.
3) Mendongeng atau membacakan cerita. Di situ disertakan beberapa cerita, seperti Three Little Pigs.
4) Mengajak anak mengapresiasi karya seni (misalnya lukisan), sambil mendiskusikan warna, media yang digunakan, dll.
5) Mengenalkan sejarah (disertai aktivitas dan cerita). Di situ contohnya Amerika dan tokoh-tokohnya sih (misalnya Martin Luther King, Jr.), tapi bisa dimodifikasi ‘kan.
6) Mengenalkan sains, misalnya mengamati hewan, tumbuh-tumbuhan, air, dan sebagainya sambil beraktivitas. Intinya mendekatkan anak dengan alam. Contohnya, bermain gelembung sabun sambil menerangkan kepada anak, “Udara ada di sekitar kita, sangat bermanfaat, tapi tidak bisa kita lihat.”

Beberapa contoh kegiatan saya dan Luna:
- Membaca buku
- Pergi ke festival2
- Ikut kumpul-kumpul komunitas Indonesia
- Ke perpustakaan
- Ke taman
- Mengajak memasak (mengupas bawang, menuang beras, mengaduk adonan)
- Berbelanja
- Main ke rumah teman
- Main game di komputer
- Menonton video di Youtube
- Menggambar
- Membuat origami
- Ikut kegiatan insidental seperti summer school atau day camp
- Belajar piano

Luna juga sering saya ajak ke acara formal/semiformal dan kadang-kadang ada yang memuji karena ia bersikap "manis" di mata orang dewasa (biasanya Luna menggambar atau merangkak-rangkak di bawah meja, tapi tak pernah bersuara keras).

Anak akan bosan kalau di rumah saja tanpa kegiatan.

Jawaban 5
Mungkin tidak usah ya..

Saya punya kurikulum PAUD th.2007, sudah explore www.letteroftheweek.com dan yang lainnya juga..hanya sebagai reference,jangan di target.

Jawaban untuk bosannya : tidak. 'Kan ada tetangga dan kerabat juga pak? waktu meng HS anak kita kan tidak membatasi dia harus ada didalam rumah. Anak saya (usia play group) juga HS dan tidak pakai kurikulum tertentu, rencananya sampai usia SD baru akan saya "kenakan" kurikulum "ajeg".

4 comments:

mommy-azki said...

wah bagus banget infonya mbak,,TFS ya, saya contek lho ini :)

Dewi said...

same-same mommy azki

anin akbar said...

tengkyu mbaaa..artikel nya mengurangi kekahwatiran, apa yang akan kulakuakan pada HS anakku. ternyata kegiatan ku sehari-hari sama dia sudah merupakan HS yaa..

Wah, bagus sekali ya mba kegiatan anaknya. Saya sdg berencana juga utk homeschooling anak sy tp baru bingung hrs gmn.